Postingan

Melapangkan

Hari itu sungguh aneh. Aku yang begitu takut kehilanganmu, memilih pergi dan tak pernah kembali sejak saat itu. Aku tak mengerti. Tak ada yang benar - benar mengerti, begitupun dengan kau. Waktu berlalu. Lalu aku yang sekarang? Kupikir aku sudah berjalan jauh. Ternyata aku tidak pergi kemana - mana. Aku masih menunggu. Dan kau entahlah. Aku tak tahu. Merindukanmu kadang datang diluar kendaliku. Tiba - tiba kau menjadi segalanya bagiku. Ada begitu banyak tempat yang ku impikan. Namun semuanya jadi tidak penting jika bukan kamu yang membersamai. Di belakangmu, aku mengamati punggungmu yang semakin jauh, lalu hanya bayangmu kemudian kabut sembunyikanmu. Aku menyayangimu. Namun justru tak bisa tinggal. Waktu akan terus meminta untuk melanjutkan. Kau memang berharga, tak mengapa bagiku menunggu sedikit lebih lama. Tapi aku takut gagal paham mengenaimu. Mengira kau akan datang padaku, ternyata kau terlambat datang karena sedang menuju orang lain. Mungkin. Tak ada alasan untu...

Sepaket

Kadang kesedihan datangnya memang sepaket dengan kebahagiaan. Mungkin memang diawali dengan tangis, tapi akan berakhir manis. Hari itu langit cerah. Hanya hatiku saja yang mendung menerima kabar buruk. Aku mengeluh. Hal buruk selalu datang padaku. Maksudku, disaat aku sedang menikmati apa yang sedang kulakukan, kenapa harus Engkau akhiri Ya Rabb? Singkat cerita , aku seperti 'isi' biskuit yang terjepit. Begitulah keadaanku saat itu. Sebenarnya aku ingin marah. Tetapi aku lebih memilih menerimanya dan melangkah. Aku berusaha percaya pada rencana Mu, pasti memang begini yang terbaik kan? Pasti. Waktu berlalu. Dan benar saja, ada banyak hikmah yang bisa kuambil. Aku tersenyum, lalu bersyukur. Ada begitu banyak hal baik yang tak pernah berhenti menghampiriku. Ternyata, dibalik semua itu ada rencana Mu yang sangat indah. Ah, lagi - lagi aku terlupa, di dunia ini memang tidak ada manusia yang selalu bahagia. Adanya yang selalu bersyukur. Semoga dengan adanya nikmat ini...

Sepasang Asing

Sore tadi langit mendung dan tidak seperti biasanya aku tidak berjalan sendirian. Seseorang berbaik hati menemaniku berjalan sampai tujuan. Jalanan lenggang. Hanya hembusan angin yang terdengar. Dia memutuskan untuk memulai pembicaraan. Dan aku terdiam sempurna mendengarkan. Memiliki seseorang untuk berbagi tentu adalah sebuah anugerah. Ingin aku membagi sedikit resahku padanya. Tapi baru sejengkal waktu aku mengenalnya. Ada begitu banyak soal kehidupan yang tak kumengerti. Dan aku belum menemukan seseorang yang tepat yang bisa menjawabnya. Dalam hati aku menerkan - nerka. Bagaimana jika, diantara kami tidak ada yang saling menemukan? Tidak ada yang saling merindukan? Ah, aku ingin mengajak dia membaca bagaimana dua orang asing saling menemukan. Sepasang asing, masih di jalannya masing - masing.

Cerita Kesunyian

Gambar
Ruang ICU, RSUD Tarakan, Jakarta.  Malam yang menarik meski tanpa hujan bintang, diusap oleh angin dingin. Sendiri memang tak selalu berati sepi. Aku sudah terbiasa sendiri bahkan ketika kemarin harus pergi ke IGD sekalipun. Ketika sendiri banyak cerita lucu atau pelajaran yang selalu bisa kuambil. Tapi sendiri bukan karena aku suka menantang diri atau mandiri. Aku hanya tak punya seseorang yang bisa kuajak untuk menemani. Kemanapun aku selalu saja berjalan sendirian dan menyimpan semua rahasia itu seorang diri. Beberapa hari lalu mendadak aku sangat kesepian. Rasa sepi yang begitu mendalam. Sepanjang hari hanya bayangan yang kujadikan sebagai teman. Aku tak bisa pergi kemana - mana, aku tak punya teman bicara, aku bosan sendirian. Waktu berjalan begitu lambat. Seringkali waktu menemukan aku terkapar menjadi orang lain. Selain DBD apa aku juga mengidap penyakit medis kesepian? Di depanku ada pemandangan kota yang mempesona. Tapi hidup seperti berhenti dan aku hanya sen...

Tersesat

Beberapa malam lalu, aku tertidur dengan perasaan kecewa dan bantal yang basah karena air mata.  Aku menyembunyikan wajahku di balik selimut lalu kantuk akan membuatku lupa bagaimana kebodohan telah membuatku terseret dengan perasaan kesalahpahaman ini. Aku bingung, entah aku yang suka berusaha keras atau memang diriku yang kelewat keras kepala. Hanya saja baru ku pahami bahwa harap hanyalah jeda bagi luka.  Sejauh ini aku masih dalam proses menyembuhkan diri. Beberapa teman membantuku untuk mengeluarkan isi hatiku.  Lalu diam - diam aku menangis dan tertawa mengingat semua kekeliruanku. Menjadi dewasa sungguh membingungkan. Ingin berkata gamblang tapi kemudian teringat akan apa saja dampak buruknya. Jadi lebih elok mengasingkan diri dari kata dan memilih jawaban dengan membisu. Aku pun memutuskan berjalan di tengah keheningan, tanpa tujuan.

Keluarga

Selamat hari raya Idul Fitri. Meski sudah terlewat beberapa hari tapi tetap ingin kuucapkan. Banyak hal yang berubah karena memang waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Begitu bersyukur tak terukur, tahun ini saya masih diberi nikmat untuk berkumpul dengan mereka yang disebut keluarga. Saya tahu, ada banyak hal yang harus direncanakan. Dulu saya berpikir, saya akan hidup bersama mereka selama yang saya bisa. Berdampingan, membersamai, beriringan, dan mengenggam tangan mereka selamanya. Tapi ternyata saya tak bisa untuk selamanya tinggal. Sekarang saya membayangkan, kelak saya akan bertemu seseorang dan mereka akan membiarkanku pergi untuk ikut bersamanya. Meski begitu, saya akan terus berpikir, keluarga adalah tempat pulang. Sebab bagaimanapun keadaannya, keluarga akan selalu menerima kita dan mencintai kita apa adanya.

Akhir Kisah

Jika ibarat sebuah buku, kau adalah halaman favorit ku. Dimana aku menggaris bawahi kalimat tertentu pada sebuah alenia panjangmu. Kau  membuat pembaca menerka - nerka perihal seseorang yang sedang kau kisahkan.   Mungkin banyak dari mereka bertanya - tanya lantas menyimpulkan sendiri lalu keliru mengartikan maksud tulisan - tulisanmu yang sebenarnya .  Ah, m aafkan.. Aku adalah salah satu pembaca yang keliru itu. Dan sekarang a ku baru mengerti jika kau memang tak pernah memberiku alasan untuk tetap tinggal. Barangkali memang bukan aku seseorang yang engkau tuju. Aku sudah memaafkan diriku sendiri agar selalu bisa berterimakasih pada hidup. Walau terkadang hatiku masih bertanya - tanya.  Bagaimana bisa aku keliru dengan semua yang kau tulis itu?  Pada akhirnya kisah ini berakhir dengan tidak baik, tetapi tidak buruk juga.  Paling tidak belum terlambat untuk menyadari jika harapan itu cuma aku sendiri yang ciptakan. Bodoh memang. Seandainya bisa...