Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Sepasang Asing

Sore tadi langit mendung dan tidak seperti biasanya aku tidak berjalan sendirian. Seseorang berbaik hati menemaniku berjalan sampai tujuan. Jalanan lenggang. Hanya hembusan angin yang terdengar. Dia memutuskan untuk memulai pembicaraan. Dan aku terdiam sempurna mendengarkan. Memiliki seseorang untuk berbagi tentu adalah sebuah anugerah. Ingin aku membagi sedikit resahku padanya. Tapi baru sejengkal waktu aku mengenalnya. Ada begitu banyak soal kehidupan yang tak kumengerti. Dan aku belum menemukan seseorang yang tepat yang bisa menjawabnya. Dalam hati aku menerkan - nerka. Bagaimana jika, diantara kami tidak ada yang saling menemukan? Tidak ada yang saling merindukan? Ah, aku ingin mengajak dia membaca bagaimana dua orang asing saling menemukan. Sepasang asing, masih di jalannya masing - masing.

Tersesat

Beberapa malam lalu, aku tertidur dengan perasaan kecewa dan bantal yang basah karena air mata.  Aku menyembunyikan wajahku di balik selimut lalu kantuk akan membuatku lupa bagaimana kebodohan telah membuatku terseret dengan perasaan kesalahpahaman ini. Aku bingung, entah aku yang suka berusaha keras atau memang diriku yang kelewat keras kepala. Hanya saja baru ku pahami bahwa harap hanyalah jeda bagi luka.  Sejauh ini aku masih dalam proses menyembuhkan diri. Beberapa teman membantuku untuk mengeluarkan isi hatiku.  Lalu diam - diam aku menangis dan tertawa mengingat semua kekeliruanku. Menjadi dewasa sungguh membingungkan. Ingin berkata gamblang tapi kemudian teringat akan apa saja dampak buruknya. Jadi lebih elok mengasingkan diri dari kata dan memilih jawaban dengan membisu. Aku pun memutuskan berjalan di tengah keheningan, tanpa tujuan.

1/3 Malam

Langit malam kian pekat. Hanya paduan suara serangga - serangga malam yang terdengar mencoba merobek kesunyiannya. Di sebuah rumah, tampak seorang lelaki yang rupanya sudah jatuh hati dengan rembulan, udara dingin dan keheningan malam. Dia memakai baju terbaiknya, menyisir rambutnya, dan mengenakan kopiah putih kesukaannya. Dengan tenang lelaki itu menikmati shalat sunnahnya sendirian. Rangkaian gerakan shalat dengan bacaannya telah lelaki itu kerjakan dengan khusyuk. Ia lalu melirik ke arah jam dinding yang menggantung di kamarnya. Sudah waktunya untuk membangunkan seseorang, begitu pikirnya. Tak jauh dari tempat sajadahnya menghampar, lelaki itu berjalan dan terduduk di salah satu sisi sebuah ranjang. Disana terbaring seorang perempuan yang masih tertidur dengan lelap. Ia menatapnya dalam. Terbesit pikiran kasihan jika ia bangunkan. Lalu sepersekian detik kemudian ia teringat akan sebuah mimpi sekaligus janjinya. "Bangun sayang, ayo kita ke Surga-Nya..." bisiknya...

Peragu

Aku memang sudah terperangkap. Di dalam ruangan yang hanya memiliki satu daun pintu dan jendela. Pintu itu berukuran sedang. Menjadi satu - satunya jalan yang bisa menghubungkan ku dengan dunia luar. Di pinggir jendela aku hanya duduk bosan bersama waktu. Menikmati hembusan angin saat memasuki ruangan. Menopang daguku dengan telapak tangan. Menunggu entah apa. Kadang ada yang mencoba mengetuk pintu itu. Seringkali aku pura - pura tak menyadarinya. Hanya tergoda untuk mengintip dari dalam tanpa berani menanyakan maksud kedatangan. Entah kenapa aku selalu ragu lalu hanya diam mengabaikan. Pasti menyenangkan jika tak perlu menunggu lagi. Aku sendiri mulai lelah. Menunggu terbebas dari semua ini. Tapi lagi - lagi karena aku begitu peragu. Tiba - tiba aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat. Aku terdiam dengan hati yang penuh tanda tanya. Cukup lama seseorang itu hanya berdiri mematung di balik pintu. Tidak mengetuk atau mengucapkan salam. Aku bergegas berdiri. Me...

Reka Ulang

Di sore yang cerah ini, dia tiba - tiba saja mengajak kami pergi ke pantai. Katanya, ingin menunjukan laut biru pada kami. Ini memang pertama kalinya kami akan pergi ke pantai bertiga. Biasanya aku hanya menunjukan laut biru pada gadis kecil ku lewat gambar - gambar dari buku dongeng sebelum tidurnya. Dialah suamiku, yang sekarang sedang mengendarai sepeda motor di depan sedang aku duduk di belakang memboncengnya. Di belakang aku memeluk dia dengan erat. Buah hati kami, hilya duduk di depan. Bulan depan usia putriku sudah genap lima tahun. Meski samar - samar aku bisa mendengar celotehan si kecil hilya dengan ayahnya. Gadis kecil ku ini memang suka sekali bercerita. Apalagi jika hatinya sedang senang begini, dia jadi makin tak bisa berhenti mengoceh. Berisik dan bandel. Tapi juga sangat penyayang. Mirip betul dengan dia, ayahnya. Dia melambatkan laju motornya ketika melewati area yang rimbun di kanan kiri jalan yang sudah terbalut aspal rapi. Melihat dari papan penunjuk arah, ka...

Cerita Perempuan

Semua orang punya cerita hidupnya masing - masing. Sembari menunggu seseorang, aku terduduk di sebuah bangku kayu dan memanjakan mataku dengan pemandangan pepohonan serta rumput - rumput liar yang nampak seperti lukisan bergoyang. Terkadang ada saja yang ikut terduduk disampingku, meski hanya sekejap. Aku sendiri tidak begitu keberatan. Asalkan ketika ia pergi, ia tak lupa untuk tidak meninggalkan jejak apapun. Kali ini ada seorang perempuan yang tiba - tiba ikut terduduk disebelahku. Dia memakai rok panjang dan dibalut dengan jilbab yang manis. Wajahnya sangat cantik dan ketika ia tersenyum laksana sungai yang dapat menghanyutkan ragu menjauh.  "Menunggu seseorang?" tanyanya. Aku tersenyum malu lalu mengangguk. "Apa orang itu tahu kau menunggunya?" Pelan aku menjawab "Tidak..." Raut wajahnya berubah masam. Ia melihatku dengan tatapan malang.  Tanpa salam, ia lalu menceritakan kisahnya.  Katanya, bulan depan ia akan menikah. Bukan ...

Berharap

Sudah sejak lama kau telah menutup hatimu rapat - rapat. Kamu membangun tembok yang menjulang tinggi sampai tak ada celah untuk orang lain memasuki. Bukan untuk melindungi sebuah nama. Tuhan mu Maha Baik, membiarkan hatimu kosong untuk diberikan pada seseorang yang benar - benar akan menjagamu. Dulu kau pernah mencintai seseorang. Tapi kalian berdua sepakat untuk bertanding saling melepaskan. Berharap masa yang tepat yang akan menyatukan. Singkat cerita, akhirnya kau terluka. Iya, someone mu pergi tapi bersama orang lain. Sambil tersedu kau mengadu pada Rabb mu. Setelahnya ketentraman hatilah yang kau dapat. Kamu telah mendapat pelajaran hidup yang berharga. Bahwasanya, tak ada cinta yang sebenar - benar cinta selain cinta karena Rabb mu. Katamu "Tak ada yang lebih indah selain memasrahkan segalanya kepada Sang Pemilik Hidup" Benar saja, kau begitu fokus menyibukkan diri dan memperbaiki diri. Bersemangat berkarya di sana - sini agar tak pernah ada kata sepi. Meski ja...

First Love

Gambar
Gerimis dari semalam belum juga berlalu. Kota kecilku ini memang tepat kusebut kota hujan. Biar sedang tidak membawa payung, tapi aku masih suka hujan. Air yang turun dari langit merupakan berkah dari Nya untuk menghidupkan segala kehidupan kan? Masih dalam kebisuan kupandangi langit biru yang keabuan. Entah kenapa langit kali ini terasa begitu kosong, persis seperti hatiku. Aku mengaduh kecil ketika mulai terasa kebas di kedua kakiku. Barangkali sudah terlalu lama aku berdiri di emperan toko jajanan ini. Aku memang sedang sengaja berjalan menembus hujan, membiarkan sedikit kulitku merasakan sensasi segarnya hujan. Tapi ternyata irisan angin malah membuatku menggigil, ditambah dengan tatapan dingin dari orang - orang yang makin membuatku membeku. Kini kubiarkan diriku hanya menikmati melihat manisnya tetesan air yang berjatuhan. Seketika aku terperangah heran ketika kulihat sesosok laki - laki yang begitu ku kenal dalam ingatan. Ia mengenakan kaos abu - abu dengan cela...

Menunggu

Gambar
Mungkin kami bertemu saat matahari berada di puncak kala itu. Di persimpang jalan, di gedung kotak bercat merah muda, di ruang persegi yang disebut sebuah kelas. Dan , entah sejak kapan, tiba-tiba ada namanya yang bermuara di dasar sini; relung ini. Masih kuingat jelas kemarin kami masih berbagi cerita. Dia suka bercerita, sedang aku begitu suka mendengarnya. Barangkali itulah mengapa kami bisa begitu akrab. Ku ketuk kecil-kecil layar ponselku. Kubiarkan mataku terbenam pada sebuah potret gambar dirinya yang sedang bersamaku di pantai ini. Di sore seperti ini,  terduduk di ujung jembatan buntu sambil menatap mozaik kilauan air laut seperti ini.  Kugoreskan senyum tipis meski ada rasa menyayat perih saat menatap lamat-lamat siluet wajahnya.

Hilangnya Cahaya

Gue tahu gue lagi bahagia, tapi di sisi lain gue butuh ketenangan hati seperti yang lain. Ketenangan hati yang bisa di dapet siapa aja, ketenangan hati yang sepenuhnya... Entah kenapa gue pengen hilang ingatan, yang enggak inget dengan semua hari dan nggak ingin esok hari. Gue pengen merasakan cinta yang seutuhnya. Bukan hanya alurnya yang indah, settingnya yang mewah, dan tokoh yang gagah. Pagi- pagi begini. Siang hari begitu. Malam hari seperti malam – malam kemarin. Besok akan seperti ini lagi. Besoknya lagi juga sama. Hingga gue menua dan matipun selamanya pasti akan begini lagi. Gue kenyang dengan kehidupan ini. Gue merasa haus akan sesuatu. Gue capek bernapas. Gue muak dengan semua ini itu.   Mungkin kedua mataku ini udah buta.  Atau mungkin kupingku udah tuli. Atau mungkin juga semua  orang itu udah bisu. Ngomong sepenggal huruf aja susah, yang tersurat aja gue nggak ngerti apa lagi yang tersirat. Apa mungkin gue yang nggak bisa nyerap tu...

BLACK CAT

Gambar
Miaw..  hari ini hari ke sepuluh gue liat tuh bocah.  Dan hari ini juga, dia resmi jadi majikan gue.  Yeap, akhirnya ada juga orang beli gue. Secara gue itu dari peranakan kucing yang item serem. Tapi kayaknya, tuh bocah ingusan udah naksirr berat sama ketampanan gue deh! Heheh.. Gimana enggak? dari hari pertama sampe hari ke sembilan dia rajin bolak – balik ngliatin gue sambil cengar – cengir mamerin gigi kuningnya di etalase kaca toko. Gila! Punya pelet apa gue? Well, sebentar lagi gw bakal punya rumah. Cihuuy!